Searching...
Selasa, 24 September 2013

Kisah East Asia mengincar emas di hutan lindung Aceh

Sumber : Atjehpost

Presidentasi East Asia Minerals
DOKUMEN itu tebalnya 107 halaman. Isinya: Hasil survey potensi emas yang terkandung di perut Gunung Miwah, Geumpang, Kabupaten Pidie. Diterbitkan tahun 2011, dokumen itu memuat laporan dan foto-foto hasil survey yang dilakukan oleh East Asia Minerals, perusahaan pemburu emas asal Kanada.
Dokumen itulah yang “dijual” oleh East Asia Mineral ke bursa saham di Toronto, Kanada. Gunung Miwah disebut-sebut sebagai salah satu potensi tambang emas terbesar di dunia. Temuan itu langsung saja membuat kapitalisasi pasar (market capitalisation) East Asia meroket di pasar modal. Kapitalisasi pasar adalah nilai sebuah perusahaan. Biasanya, temuan potensi baru akan membuat kapitalisasi pasar melonjak.
Hubungan meningkatkan kapitalisasi pasar dengan temuan emas Miwah diakui East Asia Minerals. “Peningkatan dramatis ini didasarkan terutama pada beberapa hasil bor yang sangat positif oleh temuan emas Miwah di Provinsi Aceh, Indonesia,” tulis East Asia dalam sebuah pernyataan.
Salah satu perusahaan yang kepincut dengan temuan emas “terbesar di dunia” itu adalah Aberdeen Internationl Inc. Perusahaan investasi dan perbankan internasional ini bahkan menjadikan potensi emas Gunung Miwah sebagai bisnis intinya.
Dalam sebuah pernyataan pada 2012, Presiden dan COO Aberdeen, David Stein mengatakan Gunung Miwah memiliki peluang menjadi proyek besar di dunia.
“Kami memulai posisi baru pada kuartal keempat, termasuk di East Asia Minerals Corporation. Dua proyek besar itu menjadi penemuan sumber tambang terbesar di Indonesia dari Cap-Ex Ventures Ltd. Yang mengoperasikan beberapa proyek bijih besi di wilayah itu,” ujar David Stein.
Dalam laporan hasil survei, East Asia menyebut memulai meneliti kandungan emas Miwah sejak 2008. Kandungan emasnya diperkirakan sebanyak 3,14 juta ons. Itu belum termasuk tembaga dan perak yang diperkirakan juga tak kalah banyaknya.
Disebutkan, proyek emas Miwah berjarak sekitar 150 kilometer dari Banda Aceh, berada di kawasan pegunungan Bukit Barisan. Di sekitar area tambang ada dua gunung api: Gunong Peuet Sagoe, dan Bur Ni Telong. Kedua gunung ini masing-masing berjarak sekitar 8 dan 60 kilometer dari lokasi.  “Topografinya curam dan terjal pada ketinggian berkisar antara 1.500-2.000 meter di atas permukaan laut, sebagian besar tertutup oleh hutan hujan dan vegetasi tropis. Proyek Miwah dapat diakses dari Geumpang oleh mobil 4WD sepanjang 8 kilometer, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki 9 kilometer atau alternatif dengan helikopter langsung ke lokasi proyek.”
Namun, sejak temuan itu dipublikasikan, rencana mengeruk emas dari Gunung Miwah belum terwujud. Penyebabnya, daerah temuan emas itu termasuk dalam kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Padahal, awalnya East Asia Minerals menarget memulai pengerukan emas pada November 2012.
Lambannya realisasi penambangan emas itu membuat market cap East Asia rontok. Jika pada 2010 nilai kapitalisasi pasarnya mencapai $2,16 miliar, pada Mei 2012 turun menjadi $48 juta. Per 16 April 2013 melorot menjadi $ 18 juta. Pada 23 September 2013, turun lagi menjadi $11,02 juta.
Untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mendongkrak nilai perusahaannya, pada April 2013, CEO East Asia Minerals Edward C. Rochette membuat pernyataan mengejutkan: mereka terlibat aktif dalam proses reklasifikasi fungsi hutan di Aceh. East Asia ingin status hutan lindung di Gunung Miwah menjadi hutan produksi. Bahasa gamblangnya: East Asia ingin membabat hutan lindung dan mengubahnya menjadi lubang tambang emas seperti di Freeport, Papua.
Untuk mewujudkan rencana itu, East Asia menggandeng Fadel Muhammad, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang juga mantan Gubernur Gorontalo.
Fadel disebut sebagai orang yang akan membantu East Asia mendapatkan konsesi tambang. ''Fadel akan memberi bantuan tak ternilai dalam menangani konsesi milik East Asia Minerals di Sangihe, Miwah, serta wilayah lain yang mungkin diakuisisi di masa depan. Sebagai imbalannya, Fadel akan mendapat peluang untuk memiliki saham,'' demikian bunyi pernyataan itu.
***
Meskipun temuan emas Miwah telah membuat saham East Asia meroket di pasar modal sejak dua tahun lalu, anehnya, pemerintah Pidie malah mengaku tidak pernah memberikan izin tambang emas untuk perusahaan Kanada itu.
"Kami tidak pernah berhubungan dengan East Asia Minerals. Lagi pula kita tidak bisa memberi izin pertambangan yang berada di kawasan hutan lindung," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Energi dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Pidie, Mukhtar Usman saat dihubungi melalui telepon selular, Selasa, 24 September 2013.
Mukhtar menjelaskan, saat ini ada 14 perusahaan tambang emas yang beroperasi di Geumpang, Pidie. Namun, tidak ada nama East Asia Minerals di sana. Padahal, pada Desember 2012, East Asia mengaku telah memperoleh perpanjangan izin atas 4 IUP di Miwah. Izin itu berlaku hingga 30 November 2014.
Lantas, bagaimana East Asia bisa merangsek hingga ke Gunung Miwah? “Kemungkinan mereka bekerjasama dengan perusahaan lokal yang kita beri izin. Kalau kejadiannya seperti itu, kita juga tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Muhktar.
Siapa saja perusahaan lokal itu? Mukhtar mengaku tidak tahu persis. Namun, ia mendengar ada 4 perusahaan lokal yang menjadikan East Asia sebagai konsultan. Keempat perusahaan itu adalah  PT Komuna Karya, PT Bayu Nyohoka, PT Parahita Sanu Setia, dan PT Krueng Bajikan. Kata dia, keempat perusahaan itulah yang mendapat izin IUP pada 2009, lalu diperpanjang pada 2012 dengan masa berlaku hingga 2014.
“Bisa jadi mereka mengajak East Asia untuk mendapat dukungan modal. Namun, saya pastikan pemerintah daerah tidak punya hubungan dengan East Asia Minerals,” kata Mukhtar.
Pernyataan Mukhtar bisa jadi benar. Namun, simaklah pengakuan East Asia Minerals yang termuat dalam sebuah presentasi pada Mei 2013. Presentasi itu dimuat di situs mereka dan bisa diakses siapa saja. “Bupati dan manajemen telah bertemu dengan Wakil Menteri Kehutanan.”
Dalam poin berikutnya disebutkan,”Bupati menandatangani Surat Rekomendasi untuk Gubernur mengenai permohonan perubahan klasifikasi kehutanan dari hutan lindung menjadi hutan produksi.”
Manajemen East Asia yakin perubahan status itu akan diperoleh dalam waktu 6 hingga 24 bulan.
Dalam presentasi itu juga disebutkan East Asia memegang 85 persen dari total kandungan emas Miwah. Sisa 15 persen milik perusahaan lokal.
East Asia Minerals tampaknya belum akan menyerah sebelum berhasil mengeruk emas di kawasan hutan lindung Gunung Miwah, kawasan yang selama ini menjadi daerah resapan air dan benteng terakhir dari ancaman banjir bandang.