Searching...
Sabtu, 24 Agustus 2013

Mengungkap Sniper Misterius Penembak Jenderal Kohler

 Sumber : atjehliterature



Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang terhadap Aceh dan berniat menguasai seluruh kekayaan Aceh serta meruntuhkan peradaban Islam beserta Kerajaan Islam di Aceh yang tidak bisa ditaklukkan oleh Portugis pada masa silam. Agresi Belanda pertama pada tahun 1873 tersebut dipimpin langsung oleh Jenderal Kohler seorang Jenderal pasukan Belanda yang tangguh dan juga komandan pasukan elit Kerajaan Belanda. Pasukan Belanda berhasil mendarat di pantai Ulee Lheue pada 26 Maret 1873 setelah mengalahkan pertahanan pantai Kerajaan Aceh. Pasukan Belanda mendapat serangan sengit dari prajurit Kerajaan Aceh atau pejuang Aceh saat tiba di Banda Aceh, namun karena Belanda yang membawa peralatan perang yang canggih dan lengkap serta pasukan yang berjumlah 5000 orang memaksa pejuang Aceh terpaksa harus mundur dan Belanda berhasil menguasai Mesjid Raya Baiturrahman. Tidak sampai satu bulan dari ekspedisinya Jenderal Kohler tewas terbunuh oleh seorang sniper di halaman mesjid Raya Baiturrahman. Pada saat itu Jenderal Kohler sedang menginspeksi pasukan Belanda di areal mesjid Raya Baiturrahman, namun salah seorang pejuang Aceh merunduk dan menembak Jenderal Kohler dalam jarak 100 meter dan tepat di jantungnya. Kohler roboh dibawah pohon Geulumpang yang kemudian dinamani oleh Belanda dengan Kohlerboom atau pohon Kohler. Sniper ini diketahui seorang remaja dari laskar Aceh yang berusia 19 tahun dan bersembunyi dibelakang reruntuhan mesjid yang tidak diketahui oleh Kohler yang saat itu sedang memegang teropong. Namun siapa sebenarnya sniper ini masih belum bisa dipastikan. Peristiwa tewasnya Jenderal Kohler oleh seorang sniper ini menggemparkan seluruh pasukan Belanda yang ada di Aceh dan juga seluruh dunia terutama eropa.­­­­­­ Sejarah Aceh, Mengungkap Sniper Misterius Penembak Jenderal Kohler Sniper misterius penembak Jenderal Kohler hingga saat ini masih menjadi misteri, banyak orang dan media berspekulasi tentang sniper misterius ini namun secara mengejutkan seorang cucu Teungku Imum Lueng Bata yang telah berusia 68 tahun mengaku bahwa sniper itu adalah kakeknya. Teungku Imum Lueng Bata memang seorang pejuang Aceh pada waktu Kohler dan pasukannya mendarat di Aceh. Ia merupakan pemimpin Kemukiman Lueng Bata atau seorang Uleebalang yang bernama asli Teuku Nyak Radja dan Ia juga anak dari Teungku Chik Lueng Bata. Lueng Bata ini dulunya merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Aceh dan berada langsung dibawah kesultanan. Cucu Teungku Imum Lueng Bata yang bernama Nukman ini menjelaskan bahwa kakeknya dan pengikutnya menyembunyikan sengaja merahasiakan identitas kakeknya sebagai penembak Kohler untuk melindungi dirinya dan juga pasukannya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jarak Teungku Imum Lueng Bata dengan Kohler hanya berjarak 100 meter dan menembak dengan senjata seadanya. Entah kebetulan atau memang karena keahliannya sebagai seorang sniper sejati, Teuku Nyak Raja melepaskan satu tembakan dan tepat mengenai jantung Kohler setelah sebelumnya menembus lensa teropong yang disangkut dilehernya. Pada saat peluru menembus dadanya, Kohler sempat berucap, “Oh God ik ben getroffen (Oh Tuhan Aku Kena)”. Teuku Nyak Raja atau Teungku Imum Lueng Bata hingga saat ini makamnya belum ditemukan, namun Sejarah Aceh mencatat bahwa ia syahid dalam pengejaran pasukan Belanda akan tetapi sejarah juga tidak mencatat dimana lokasi syahidnya. Tapi ada juga yang mengatakan jika beliau syahid di Geulumpang Minyeuk, kab Pidie. Terlepas dari cerita Nukman ini, yang jelas sang sniper dari pejuang Aceh yang sangat jenius bisa membunuh seorang Jenderal Pasukan Elit Belanda seperti Kohler tanpa terdeteksi hingga sekarang. Cara sniper ini menyembunyikan dirinya dan menyembunyikan identitas dirinya layak disetarakan dengan sniper-sniper elit di dunia ini. Jasad Kohler dikebumikan di Kherkoff Peucut atau kompleks pemakaman Belanda dan didirikan monumen Kohler disana untuk mengenang dirinya. Sejak Belanda datang ke Aceh hingga mereka pergi dari Aceh, niatnya untuk menaklukkan dan menguasai Aceh tidak pernah terwujud. Kita sebagai anak cucu dari pejuang-pejuang Aceh ini patut berbangga pada mereka dan tetap mewarisi kejeniusan dan rasa cinta tanah air mereka.